MASIH TENTANG SENJA DAN SELURUH RASA RINDU YANG MELEKAT PADANYA

Sumber:
https://www.instagram.com/celoteh.deza?r=nametag


Tabik…


Bagaimana kabar para pembaca semua?? Mudah-mudahan dalam keadaan baik serta tetap dikaruniai kesehatan

Ini merupakan tulisan pertama saya di blog “Celoteh Deza” yang mengadopsi cerita-cerita dari setiap postingan dan caption akun Instagram @celoteh.deza 


Entah mengapa, saya memiliki ketertarikan lebih pada senja (Matahari Terbenam) bahkan tak sedikit kawan-kawan saya memanggil saya ‘Anak Senja’. Sejujurnya saya agak keberatan dengan panggilan tersebut, karena mungkin anak senja memiliki kesan ‘Jarang Sholat Maghrib’ hahaha…. Alasannya karena orang-orang ini ketika sore hari bukannya ambil sarung dan langsung otewe masjid, ini malah ambil kopi dan memandang senja serta ditemani lagu-lagu indie. 


Percayalah, tidak semua para penikmat senja adalah orang-orang yang lalai dalam melaksanakan sholat Maghrib, cuma suka agak telat aja solatnya dan itupun gak tiap hari kok hahaha.


Oke kita langsung saja mulai….


Senja memang identik dengan keindahan dan banyak orang sangat mengaguminya. Akan tetapi, dibalik itu semua senja menyiratkan suatu pesan yang kebanyakan orang tidak menyadarinya. Yaa, perpisahan. Seindah apapun senja, tetap akan menyisakan kegelapan sepeninggalnya.

*

Seorang pria dengan usia 23 tahun sedang duduk menikmati keindahan sinar sang surya yang perlahan ditelan cakrawala. Masih dengan seragam kerja dan sebatang rokok terjepit diantara jarinya, ia menyeka air mata yang perlahan jatuh membasahi pipinya. Yaa, ia memiliki kebiasaan menatap senja setiap hari sepulangnya dari ia bekerja. Dan selalu berusaha menitipkan seluruh rasa rindu yang tak pernah mendapatkan balasan kepada sang senja. Tentunya dengan harapan bahwa sang senja dapat membawa rasa rindu itu pergi tenggelam dalam kegelapan malam. Namun semesta selalu berkata lain, setiap hari pada keesokan harinya, sang fajar selalu membawa kembali seluruh rasa rindu itu seakan semesta memberikan harapan bahwa kelak ia akan mendapat balasan rasa rindu jua darinya.

**

Dibelahan bumi lainnya, seorang wanita sedang duduk menatap senja sembari memeluk lutut. Pikiran wanita tersebut melayang melanglang buana mengingat kembali kenangan-kenangan dulu yang pernah ia lewati bersama dengan seorang pria. Tak banyak kenangan yang mereka lalui, karena sejatinya mereka bukanlah sepasang kekasih yang selalu pergi ke Bioskop setiap ada film baru tayang, bahkan tak pernah mereka jalan berdua untuk sekedar pergi memesan kopi kekinian untuk kemudian berfoto sambil masing-masing memegang cup kopi Medium dan memasang foto tersebut pada status WA ataupun Instastory dengan caption yang menunjukan bahwa mereka sedang bahagia, dunia serasa milik berdua dan semua orang yang hilir mudik didepan mereka hanya ngontrak di dunia ini. Walaupun demikian, rasanya 3 tahun kedekatan mereka yang hanya sebatas teman chating dan sesekali bertemu singkat di Basement kampus, masjid kampus atau bahkan ketika rapat organisasi (kebetulan mereka mengikuti organisasi yang sama di kampus) sangatlah membekas. Memang wanita ini tak banyak memiliki kenangan berdua dengan ‘dia’ namun setiap scene pertemuan singkat mereka seakan dipresentasikan oleh semesta yang membuat wanita ini tersenyum sendiri.


Adzan maghrib menyadarkan lamunan wanita tersebut yang entah terbang kemana, sebelum ia bergegas untuk melaksanakan Shalat Maghrib, ia menatap sebuah Buku Novel yang sedari tadi ia genggam. “Semoga semesta memiliki rencana terbaik.” Gumamnya sembari tersenyum.


Lantas ia menyimpan buku tersebut pada deretan rak buku paling kiri berdampingan dengan buku-buku lainnya. Yaa, dulu wanita tersebut memang memiliki kebiasaan saling pinjam dan meminjamkan buku dengan pria yang ada pada lamunannya tadi. Sebelum pria itu pergi, dia menitipkan sebuah Buku Novel kepada wanita tadi. “Nanti kalo kamu wisuda tahun depan, aku janji akan datang untuk mengambil buku ini.” Ucap pria tersebut sembari menyerahkan buku.


“Neng udah Sholat Maghrib?” tegur seorang wanita separuh baya sembari membuka pintu kamar.


Seketika lamunan wanita tersebut buyar dan segera bergegas menyeka air mata yang tak sadar jatuh membasahi pipinya “Belum mah, ini baru mau ambil Wudhu” Jawab wanita tersebut tersenyum sambil melangkah untuk mengambil air Wudhu.


Bersambung…

Komentar